Banyak perempuan terbiasa menganggap keluhan menstruasi sebagai hal yang wajar. Haid yang lebih deras dari biasanya, bercak di luar jadwal, atau siklus yang berubah sering dibiarkan dengan harapan akan membaik sendiri. Padahal, sebagian keluhan tersebut bisa berasal dari kondisi di dalam rongga rahim yang perlu diperiksa lebih lanjut.
Salah satu pemeriksaan yang dapat membantu melihat kondisi tersebut adalah histeroskopi. Menurut NHS, histeroskopi adalah prosedur untuk melihat bagian dalam rahim menggunakan alat tipis yang dilengkapi kamera kecil. Histeroskopi dapat dilakukan untuk mencari penyebab keluhan seperti perdarahan dari vagina yang penyebabnya belum diketahui.
Bila keluhan tersebut Anda alami, tidak ada salahnya untuk periksa keluhan rahim ke dokter obgyn jakarta pusat agar penyebabnya dapat ditelusuri dan pemeriksaan yang diperlukan, termasuk histeroskopi, dapat ditentukan dengan tepat.
Pemeriksaan awal bersama dokter spesialis kandungan dr. Sita Ayu juga dapat membantu Anda memahami apakah keluhan yang dirasakan masih tergolong normal atau perlu ditindaklanjuti.
Keluhan yang Bisa Menjadi Alasan Histeroskopi
Histeroskopi tidak dilakukan pada setiap keluhan menstruasi. Dokter mempertimbangkan histeroskopi berdasarkan keluhan, hasil pemeriksaan, dan pemeriksaan penunjang seperti USG. Pada kondisi tertentu, histeroskopi dapat menjadi pemeriksaan awal, terutama bila dicurigai adanya kelainan di dalam rongga rahim.
Beberapa kondisi yang dapat menjadi alasan dilakukannya histeroskopi antara lain:
- Haid yang sangat deras atau berlangsung lebih lama dari biasanya
- Perdarahan atau bercak di antara dua siklus menstruasi
- Perdarahan setelah menopause
- Dugaan polip atau miom yang menonjol ke arah rongga rahim
- Kesulitan hamil atau keguguran berulang, terutama bila terdapat dugaan kelainan di dalam rongga rahim
- IUD (alat kontrasepsi yang dipasang di dalam rahim) dengan benang yang tidak terlihat dan perlu dievaluasi atau dikeluarkan
Hal ini sejalan dengan artikel Histeroskopi: Solusi Modern Bagi Kesehatan Rahim Wanita dari dr. Sita Ayu Arumi, yang menjelaskan bahwa histeroskopi diagnostik dilakukan untuk membantu mencari penyebab masalah di dalam rahim, misalnya perdarahan menstruasi yang tidak normal, kesulitan hamil, atau dugaan adanya polip rahim.
Mengapa Tidak Cukup dengan USG?
USG merupakan pemeriksaan yang berguna untuk melihat ukuran dan bentuk rahim, ketebalan endometrium (lapisan yang melapisi bagian dalam rahim), serta mendeteksi dugaan adanya kelainan atau massa. Namun, pada beberapa kondisi, USG belum memberikan gambaran yang cukup jelas mengenai jenis atau lokasi kelainan di dalam rongga rahim.
Histeroskopi memungkinkan dokter melihat langsung permukaan dalam rahim melalui kamera. Menurut artikel histeroskopi dari dr. Sita Ayu Arumi, tindakan ini tidak memerlukan sayatan di perut karena alat dimasukkan melalui vagina dan leher rahim. Pada kondisi tertentu, dokter juga dapat mengambil sampel jaringan untuk diperiksa di laboratorium atau mengangkat polip dalam tindakan yang sama.
Polip Rahim, Temuan yang Cukup Sering
Salah satu kelainan yang dapat ditemukan pada histeroskopi adalah polip endometrium, yaitu pertumbuhan jaringan yang berasal dari endometrium, yaitu lapisan yang melapisi bagian dalam rahim. Polip dapat menyebabkan perdarahan di luar jadwal haid atau haid yang lebih deras, meskipun sebagian polip tidak menimbulkan gejala sama sekali.
Menurut artikel polip rahim dari dr. Sita Ayu Arumi, penanganan polip disesuaikan dengan ukuran, jumlah, gejala, serta rencana kehamilan pasien. Histeroskopi menjadi salah satu cara yang dapat digunakan untuk mengangkat polip tanpa sayatan di perut.
Persiapan Sebelum Histeroskopi, Apa Saja?
Jika dokter merekomendasikan histeroskopi, ada beberapa hal yang umumnya perlu diperhatikan:
- Menjadwalkan tindakan pada waktu tertentu dalam siklus menstruasi sesuai anjuran dokter, agar bagian dalam rahim dapat terlihat dengan lebih jelas
- Memastikan tidak sedang hamil sebelum tindakan
- Menyampaikan semua obat yang sedang dikonsumsi kepada dokter, termasuk obat pengencer darah, dan tidak menghentikannya sendiri tanpa arahan dokter
- Menanyakan pilihan pereda nyeri atau anestesi (obat yang digunakan untuk mengurangi atau menghilangkan rasa nyeri) yang akan digunakan selama tindakan
- Menyiapkan pendamping bila tindakan dilakukan dengan sedasi atau pembiusan, terutama bila setelah tindakan pasien masih mengalami efek obat
Soal rasa nyeri, sebuah studi kohort yang terbit Februari 2026 menunjukkan bahwa tingkat nyeri selama histeroskopi dapat berbeda pada setiap pasien. Secara umum, sebagian besar pasien dalam studi tersebut dapat menjalani prosedur dengan baik, meskipun beberapa pasien mengalami nyeri yang lebih berat.
Setelah Histeroskopi, Apa yang Perlu Diperhatikan?
Setelah histeroskopi, sebagian perempuan dapat mengalami kram perut ringan seperti nyeri haid serta perdarahan ringan atau bercak darah selama beberapa hari. Keluhan ini umumnya bersifat sementara dan dapat membaik dengan sendirinya. Dokter biasanya akan memberikan anjuran sederhana, seperti beristirahat sesuai kebutuhan, menggunakan pembalut alih-alih tampon selama masih mengalami perdarahan, serta menunda hubungan seksual hingga perdarahan atau bercak berhenti atau sesuai anjuran dokter.
Namun, ada beberapa tanda yang sebaiknya tidak diabaikan setelah tindakan, yaitu:
- Demam atau menggigil
- Nyeri perut yang semakin berat dan tidak membaik dengan obat pereda nyeri
- Perdarahan yang semakin banyak atau tidak berhenti setelah beberapa hari
- Keputihan berbau tidak sedap
Bila muncul tanda-tanda tersebut, segera hubungi dokter atau fasilitas kesehatan terdekat. Selain itu, jangan lupa datang pada jadwal kontrol untuk membahas hasil pemeriksaan dan rencana penanganan selanjutnya.
Selain memperhatikan tanda bahaya, pasien juga dianjurkan menjaga asupan cairan dan mengonsumsi makanan bergizi selama masa pemulihan. Banyak pasien dapat kembali melakukan aktivitas ringan dalam waktu singkat setelah histeroskopi, tetapi waktunya dapat berbeda tergantung jenis tindakan, penggunaan pembiusan, dan kondisi masing-masing.
FAQ
Berapa lama histeroskopi berlangsung?
Histeroskopi diagnostik umumnya berlangsung singkat, sekitar 10–15 menit, tetapi dapat memerlukan waktu lebih lama bila disertai pengambilan sampel jaringan atau pengangkatan polip.
Apakah setelah histeroskopi bisa langsung pulang?
Pada banyak kasus, pasien dapat pulang pada hari yang sama setelah tindakan, tergantung jenis prosedur dan obat pereda nyeri, sedasi, atau pembiusan yang digunakan.
Apakah histeroskopi bisa dilakukan pada perempuan yang belum pernah melahirkan?
Bisa. Histeroskopi dapat dilakukan pada perempuan yang belum pernah melahirkan. Dokter akan menyesuaikan teknik, ukuran alat, serta pilihan pereda nyeri atau pembiusan dengan kondisi masing-masing pasien.
Kesimpulan
Keluhan seperti haid yang sangat deras, perdarahan di luar jadwal menstruasi, perdarahan setelah menopause, atau kesulitan hamil sebaiknya tidak diabaikan dan perlu dievaluasi sesuai kondisi masing-masing. Histeroskopi dapat membantu dokter melihat langsung kondisi rongga rahim dan, pada kasus tertentu, sekaligus menanganinya. Keputusan untuk menjalani tindakan ini tetap perlu didasarkan pada hasil konsultasi dan pemeriksaan awal bersama dokter.
